Bisnis Digital: Fintech akan terlihat Sexy di tahun 2017

Peluang bisnis digital memang ngeri-ngeri sedap. Sebetulnya bisnis ini lebih ke INOVASI ketimbang INOPASTI. Simak selengkapnya!
148  
       

Peluang bisnis digital memang ngeri-ngeri sedap, bukan hanya begitu sebetulnya bisnis ini lebih ke inovasi ketimbang inopasti Hehehe… Ditahun 2016 startup fintech di Indonesia baru sekitar 200 Miliar pengucuran dana. Bagaimanakah di tahun 2017? apakah akan sama? mari kita lihat.

Bisnis Digital Finance Technology

Fintech merupakan salah satu bisnis digital yang diprediksi akan paling survive bahkan jika dibandingkan dengan ecommerce. Karena fintech seperti bisnis bank konvensional pada umumnya namun fintech sendiri akan lebih mengutamakan proses digital yang mana akan memudahkan sarana dan prasarana aktifitas bisnis, baik dalam segi perdagangan, saham, jual-beli, maupun investasi. Mari kita lihat beberapa fintech startup di Indonesia

Fintech Startup Di Indonesia

Menurut Fintechnews.sg beberapa startup fintech di Indonesia akan menjadi sorotan investor luar negeri dan dalam negeri pada tahun 2017. Diantaranya adalah

HaloMoney

HaloMoney adalah website perbandingan / bursa untuk pelayanan keuangan seperti asuransi, deposito / investasi berjangka, perbankan, dan pinjaman. Dalam situs ini menitikberatkan terhadap nilai pelayanan, fitur, kekurangan dan kelebihan dari suatu penyedia keuangan.

Bareksa

Bareksa.com merupakan portal terintegrasi untuk para investor yang ingin berinvestasi. Muncul pada tahun 2013 dibawah nama perusahaan PT Bareksa Portal Investasi yang menjadi satu-satunya fintech di Indonesia pada saat itu. Bareksa menawarkan kemudahan terhadap konsumennya dengan pelayanan data yang akurat serta Investment Tools yang dibangun sendiri. Selain itu juga, bareksa menyediakan juga pusat informasi dan pemberitaan terkait investor, pusat pembelajaran bagi investor serta komunitas para investor.

CekAja

CekAja merupakan startup fintech yang berbasis di Jakarta, dimana website nya focus terhadap ketepatan, keamanan dan kesederhanaan (simplecity) untuk para penggunanya. Adapun pelayanan didalamnya sudah termasuk bursa peminjaman personal, kartu kredit, deposito, dan syariah.

Doku

Doku merupakan salah satu startup yang paling saya gunakan. Saya memiliki beberapa online store, dan bekerja sebagai freelance development support untuk beberapa situs ecommerce. Saya selalu menggunakan Doku, selain simple payment gateway yang satu ini menawarkan fleksibilitas terutama dalam menggunakan web yang berbasis cms seperti wordpress dan magento. Sebagai salah satu pelopor dalam payment gateway, Doku dibawah PT Nusa Satu Inti Artha merupakan payment gateway terbesar di Indonesia. Di pertengahan tahun 2016, setidaknya Doku telah melayani sekitar 800 lini bisnis di Indonesia.

Veritrans

Sama seperti Doku, veritrans merupakan salah satu payment gateway yang sedang naik daun di tahun 2015. Bukan hanya situs yang UKM, layanan dari veritrans pun bahkan digunakan oleh Xiaomi Indonesia sebagai satu-satunya payment yang digunakan untuk pembelian onlinenya.

NgaturDuit.com

Ini dia, salah satu fintech startup dari Indonesia, seperti yang ahli dan Consultan UX bilang Arifin Ipin, “kelebihan startup di Indonesia itu lebih mengerti terhadap kultur nya sendiri”. Dengan demikian, ngaturduit.com ini salah satu buktinya. Dimana pengaturan keuangan untuk sebagian orang masih dirasa terlalu sulit sehingga startup ini berawal dari misi untuk memberikan konsultasi keuangan, menyediakan tools untuk membantu mengatur keuangan dan sebagainya.

Peluang Fintech di Indonesia

Setelah melihat beberapa profil startup Fintech di Indonesia, mungkin untuk anda yang sudah kepikiran buat startup mungkin bisa dimulai dari sekarang. Bisnis digital itu luas, sehingga pasti ada celah yang masih belum direalisasikan oleh orang lain. Dan, kabar baiknya juga. Beberapa perusahaan di Indonesia akan mulai mengucurkan dananya hingga 5 Trilun Rupiah untuk pendaan startup Fintech.

Fakta dan Kendala Fintech Di Indonesia

Untuk kali ini, saya akan memohon izin untuk membahas fakta dan agak menyinggung SARA, dimana fakta ini di Indonesia merupakan hal yang lumrah dan sangat unik terjadi. Dimana sebagian mayoritas penduduk Indonesia muslim, maka proses RIBA didalam fintech ini pasti akan menjadi sorotan utama. Dengan demikian fakta yang pertama sudah terungkap. Berikut ini adalah beberapa penjelasan tentang Fakta dan Kendala Fintech di Indonesia.

Kultur Syariah VS RIBA

Jika anda sudah kepikiran untuk membuat fintech, usahakan anda jangan mention yang berbau Riba. Menurut informasi yang saya dapatkan dari beberapa teman saya yang bekerja di Perbankan, peluang Perbankan Syariah itu masih luas. Baik dari segi tools, kaidah atau sistem yang dianut bahkan mungkin membuat bank. Dengan demikian, tidak akan ada konfrontasi sehingga anda akan mendapatkan traksi kontrol user yang bagus jika memang target costumer anda berada di Indonesia.

OJK Sang Penguasa

Maaf jika judulnya seperti mau perang, tapi ini benar adanya. Jika tanpa adanya OJK, saya yakin proses finansial di Indonesia mungkin akan lebih maju atau mungkin lebih buruk. Saya juga tidak bisa berburuk sangka terhadap OJK, karena fintech ini adalah bagian dari mengelola uang orang secara digital. Tentu saja hal ini berbeda dengan bank pada umumnya. Kekhawatiran OJK mungkin sudah ada ditahapan pengontrolan Cash Flow, apakah semakin terkontrol atau bahkan semakin tidak terkontrol. Sampai saat ini, OJK masih membahas bagaimana fintech di Indonesia supaya grow up dan tetap win-win solution terhadap sektor bisnis finansial lainya. Tidak jarang saya melihat beberapa keluhan yang dilontarkan oleh beberapa startup fintech, “Katanya kalu mau nyimpan uang orang harus di audit dulu oleh OJK”. Di satu sisi saya sebagai user agak geram karena dengan adanya startup tersebut saya lebih mudah untuk membeli barang, tapi disisi lain keaman uang saya sesungguhnya tidak terjamin.

Satpam Digital

Sebagai programmer dan konsultan bisnis, saya sedikit-sedikit paham mengenai apa itu arti keamanan. Tapi, seperti yang disinggung diawal, Indonesia ini kulturnya kuat. Abaikan dulu keamanan buat dulu aplikasinya. Barulah nanti kalau sudah kebobolan sistemnya diaudit. hehehe. Meskipun demikian, jika fintech terbangun maka tidak tertutup kemungkinan startup dibidang security auditor akan ikut bangun juga seiring permintaan pelayanan aman, atau startup satpam digital.

Demikian. Semoga Membantu.