Kenapa orang lain tidak terlalu percaya dengan bisnis pemula

Jaman sekarang semakin banyak para pengusaha muda tumbuh yang kemudian melahirkan beberapa perusahaan perintis yang sukses menjadi besar dengan dana kucuran yang besar juga. Baru-baru ini salah satu perusahaan perintis di Indonesia mendapatkan dana yang bisa dibilang besar sekali untuk kaliber perusahaan perintis. Pastinya orang yang sudah mengetahui dunia per-startup-an ini akan girang dan makin bersemangat untuk menumbuhkan perusahaan baru. Namun, apakah benar membangun perusahaan perintis itu mudah? Dari hal yang paling sederhana saja dulu. Ketika kita mengungkapkan ide bisnis baru kepada sahabat atau kolega terdekat apakah mereka langsung percaya? Tentu saja jawabannya tidak. Kalau pun percaya, sudah pasti ide tersebut akan langsung diakuisi oleh lawan bicara anda.

Bisnis pemula di mata orang lain

Ketika kita mengungkapkan ide bisnis kepada orang lain, kita tentunya sudah pasti bisa melihat respons-nya terhadap perkataan kita. Baik itu dari gesture, jawaban, maupun kondisi lainnya. Adapun beberapa jawaban yang paling sering terungkap yaitu seperti “ahh… mustahil”,”tidak, saya tidak tertarik”, dan “Ya, ini ide yang sangat bagus!”.  Dari ketiga respon yang ada, akan kita bahas satu demi satu apa saja yang ada didalamnya.

Mustahil

Dari beberapa pengalaman saya, ketika orang lain mengungkapkan idenya kepada saya bahkan saya pun terkadang bingung dan hati saya pasti langsung jawab “mustahil”. Dari sekian banyak ide-ide yang terungkap, jawaban ini selalu ada. Begitu juga sebaliknya, hampir disetiap lawan bicara ketika saya mengungkapkan ide, ada yang jawab “Iya”, “Bagus” dan masih banyak lagi tapi sebetulnya arti dari kata itu adalah suatu ungkapan dari “mustahil”. Sehingga jawaban mustahil ini ada diurutan pertama yang dibahas.

Berharaplah Mustahil

Sebetulnya ada baiknya kita dianggap mustahil karena ide kita tidak mudah dicuri oleh orang lain, kalaupun sampai dicuri ide pastilah akan sulit dieksekusi karena kemustahilan yang tadi. Kemudian kalau dilihat dari aspek masa depan, setelah bisnisnya berjalan dengan baik dan mulai dimengerti oleh founder-founder lainnya pastilah akan muncul masalah baru. Biasanya akan mulai saling sikut dan bersaing secara tidak sehat. Ini disebabkan karena founder-founder tersebut merasa paling berkorban, merasa paling berpengaruh, dan merasa paling berguna. Adapun tujuan akhir dari perseteruan ini adalah adanya permainan “Good Cop VS Bad Cop” sehingga membuat karyawan dan investor seperti seakan-akan tidak harmonis sehingga investor tidak tertarik lagi dengan bisnis kita.

Iya tapi.., dan Saya tidak tertarik

Ini adalah jawaban kedua yang paling banyak terungkap kedua ketika saya sebagai lawan bicara maupun sebagai pengungkap ide. Beberapa waktu yang lalu saya bertemu dengan calon klien yang memang mau membuat situs download. Tentu saja saya langsung mengatakan “Iya tapi bagaimana dengan urusan hak cipta, konten dan lainnya” meskipun saya tahu bahwa pengunjung web downloader itu sangat besar Passive incomenya, namun tetaplah kalau bisa mencari uang itu yang legal. Sementara untuk saya sendiri sebagai orang yang beragama islam, bukan hanya legal tapi harus halal juga.

Kemudian dikasus kedua, ada salah satu klien saya yang baru dia ingin membuat situs web Judi. Itu tentunya saya serentak menjawab “Tidak”. Bukan karena idenya yang salah, tapi karena dibeberapa web hosting memang ada term of service yang mengatakan situs judi itu tidak legal. Meskipun saya dipaksa, saya tidak peduli saya tetap bilang tidak namun tapi saya tidak fanatik juga. Saya anggap itu adalah pembelajaran, bahwa ternyata didunia web ini sangat luas.

Jawabannya Iya

Sebetulnya ini yang harus hati-hati. Karena dengan mengatakan iya itu belum tentu deal and join, mungkin saja dia juga siap berkhianat. Inilah sebetulnya yang mendasari artikel Petualangan mencari co-founder. Dari pengalaman saya, jawaban iya dari sekian banyak ide bisnis yang terungkap dari tahun 2012 sampai Agustus 2017 kurang dari 10. Itu sudah terhitung saya sebagai yang punya ide maupun saya sebagai lawan bicara dari yang punya ide. Dari 10 perkataan bisnis yang dijawab iya, yang terealisasi itu hanya 4. Sungguh sangat miris bukan.

 

Ide = Tidak Realistis

Hal yang paling sulit dilakukan dari sebuah ide yaitu eksekusinya. Tidak semua orang mempunyai ide kemudian dapat dieksekusi dengan baik, bahkan kebanyakan hanyalah menjadi konsep semata. Disisi lain, semua orang tahu bahwa ide itu mahal tapi akan lebih mahal ketika ide itu tertuang dalam bentuk yang nyata. Itulah kenapa ide itu sering tidak dipercaya. Proses perubahan ide menjadi suatu bentuk yang nyata ini bisa berbentuk proposal, bisa juga berbentuk executive summary, bisa juga sudah berbentuk bisplan (business planning). Namun dari semua itu, satu hal ketika kita ingin mudah dipercaya yaitu dengan cara membuat prototype atau dummy product. Dari prototype inilah biasanya ide dapat lebih mudah dicerna sehingga bisnis kita akan lebih dimengerti. Karena tidak semua orang bisa mengkonsumsi ide bisnis hanya dari sebuah konsep dan goresan kertas saja.

Kesimpulan

Sebagian besar pengusaha akhirnya memulai dan menjalankan banyak bisnis, jadi jika yang pertama gagal, itu berarti yang kedua dan seterusnya akan lebih mungkin berhasil. Pengusaha sukses berkembang tumbuh dari kegagalan, jadi jangan berpikir kegagalan sebagai sesuatu yang horror. Sebagai gantinya, anggaplah itu sebagai satu langkah besar lebih mendekati mimpi menjadi seorang entrepreneur sejati.

Demikian. Semoga membantu.

Daeng Rosanda: Founder Cenah.co.id. CMO dari Solusi Mega Indonesia. Web Developer since 2013.
Artikel Lainnya

This website uses cookies.